<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Wong Jawa</title>
	<atom:link href="http://wong-jawa.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wong-jawa.com</link>
	<description>Semua tentang wong jawa</description>
	<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 11:33:26 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Wong-Jawa menghadapi globalisasi peradaban.</title>
		<link>http://wong-jawa.com/2009/wong-jawa-menghadapi-globalisasi-peradaban/</link>
		<comments>http://wong-jawa.com/2009/wong-jawa-menghadapi-globalisasi-peradaban/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 10:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[nguri-uri budaya]]></category>

		<category><![CDATA[budaya jawa]]></category>

		<category><![CDATA[ditengah globalisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wong-jawa.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[

Beberapa ungkapan yang sempat tercuat dari sesepuh jawa, yang menginginkan akar budaya jawa janganlah sampai hilang di telan Globalisasi peradaban.


Mas tulus dari jogja:
“Yang diperlukan adalah forum atau media untuk membahas dan mempraktekkan budaya (Jawa).”
Budaya bisa langgeng dan digunakan kalau memang memiliki nilai pragmatisme, jika tidak maka tentu akan ditinggalkan komunitasnya.
Praktik budaya bisa dilakukan pada saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Beberapa ungkapan yang sempat tercuat dari sesepuh jawa, yang menginginkan akar budaya jawa janganlah sampai hilang di telan<span> </span>Globalisasi peradaban.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://wong-jawa.com/wp-content/uploads/2009/05/sultan1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-80" title="sultan" src="http://wong-jawa.com/wp-content/uploads/2009/05/sultan1-300x256.jpg" alt="" width="300" height="256" /></a></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><em>Mas tulus dari jogja:</em></strong></p>
<p class="MsoNormal">“Yang diperlukan adalah forum atau media untuk membahas dan mempraktekkan budaya (Jawa).”</p>
<p>Budaya bisa langgeng dan digunakan kalau memang memiliki nilai pragmatisme, jika tidak maka tentu akan ditinggalkan komunitasnya.<br />
Praktik budaya bisa dilakukan pada saat saat penting atau dalam perilaku sehari hari, maksudnya bisa saja pada saat inisiasi - kelahiran, perkawainan dan atau kematian. Atau bisa dalam kehidupan sehari hari, dalam berpakaian, berbicara maupun berfikir.</p>
<p>Anak muda kehilangan dua hal, pertama media dan kedua contoh, maka tidak heran kalau generasi muda menjadi asing dengan budayanya sendiri. Siapa yang bertangungjawab? tentu generasi pendahulunya, jangan salahkan generasi mudanya.</p>
<p>Contoh apakah ketika saat inisiasi kehidupan manusia para orang tua melakukan pranata budaya secara langkap atau tidak sama sekali. Orang tidak malaksanakan praktik budaya dengan berbagai alasan. Mungkin dengan alasan ekonomi tidak melaksanakan, yang lebih repot dan ini akan menghacurkan pranata budaya, kalau tidak melakukannya karena menggunakan nilai lain yang sama sekali tidak mendukung pranata budaya tersebut.</p>
<p>Praktik budaya yang paling sederhana adalah dalam penggunaan bahasa sehari hari. Untuk yang satu inipun banyak yang tidak melaksanakannya, sehingga bagaimana generasi muda bisa mengerti unggah ungguh Jawa kalau bahasa Jawa saja tidak mengerti, lantas siapa yang patut disalahkan? tentu para orang tua yang tidak mengajarkan bahasa kepada anak anaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">
<p class="MsoNormal">Unggah ungguh Jawa dilandasi oleh cara berfikir Jawa, yaitu mendahulukan harmonisasi hubungan antar manusia, didalamnya terdapat rasa hormat dan toleransi yang mendalam pada orang lain, pada cara pandang lain pada fihak lain.</p>
<p>Sehingga budaya Jawa sebenarnya tidak mengenal mutlak-mutlakan, semuanya relatif, semua diberi kesempatan. Namun sifat yang semacam ini seringkali disalah tafsirkan sebagai sikap tidak tegas, sikap plin-plan, sikap mendua&#8230;sikap yang tidak rasional.</p>
<p>Nah disinilah bedanya -atau istimewanya -atau sulitnya, orang Jawa harus mendahulukan &#8220;rasa pangrasa&#8221;, artinya tidak hanya rasionalitas melainkan totalitas sikap kemanusiaan.</p>
<p>Jaman sekarang, orang dipacu untuk memburu kepentingannya sendiri, ingin menang sendiri,ingin benar sendiri, dalam iklim persaingan atau kompetisi rasional semacam ini kultur Jawa tidak akan berkembang.</p>
<p>Maka benar apa yang disampaikan Kangmas Sadaryanto, BUDAYA SENDIRI YA HARUS DIJAGA SENDIRI. Maka, mari kita jaga sendiri budaya kita, kita jaga pribadi sendiri, cara berfikir kita, cara bertutur kita, cara memilih kata</p>
<div class="aizattos_related_posts"><span class="aizattos_related_posts_header" >Related Posts</span><ul><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://wong-jawa.com/2009/ki-ageng-pamanahan/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Ki Ageng Pamanahan" >Ki Ageng Pamanahan</a></span><div class="aizattos_related_posts_excerpt">








	Ki Ageng Pamanahan atau Ki Gede Pamanahan, adalah pendiri desa Mataram tahun 1556...</div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wong-jawa.com/2009/wong-jawa-menghadapi-globalisasi-peradaban/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Humor Suroboyoan</title>
		<link>http://wong-jawa.com/2009/humor-suroboyoan/</link>
		<comments>http://wong-jawa.com/2009/humor-suroboyoan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 13:46:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[mesem-ngguyu,nangis-mbrebes mili]]></category>

		<category><![CDATA[cerito banyolan]]></category>

		<category><![CDATA[lawak]]></category>

		<category><![CDATA[suroboyoan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wong-jawa.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Cerito Khayal: Salesman 
 
Kapanane onok Salesman Vaccum Cleaner teko nhik omahku.
Ewangku durung sempet ngomong opo-opo moro-moro salesman iku
mau langsung nyebarno tembelek wedhus ndhik karpet.
Jarene ngene ”Wis pokoke buk, lek sampek vaccum cleanerku iki gak
isok nyedot, tak jamin tak emploke sithok-sithok tembeleke wedhus iku.”
Jare ewangku ”Peno kepingin didhulit sambel tha ngemploke ?”.
”Lho opoko masalae ?” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 14pt; font-family: CMSSBX10; color: black;">Cerito Khayal: Salesman </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMSSBX10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Kapanane onok Salesman Vaccum Cleaner teko nhik omahku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Ewangku durung sempet ngomong opo-opo moro-moro salesman iku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">mau langsung nyebarno tembelek wedhus ndhik karpet.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Jarene ngene ”Wis pokoke buk, lek sampek vaccum cleanerku iki gak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">isok nyedot, tak jamin tak emploke sithok-sithok tembeleke wedhus iku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Jare ewangku ”Peno kepingin didhulit sambel tha ngemploke ?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Lho opoko masalae ?” salesmane takok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Lha peno gak ndhelok tha saiki lampu mati &#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">====sg=====</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 16pt; font-family: CMSSBX10; color: black;">Cerito Khayal: Rasa Stroberi tah ..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMSSBX10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Pas acara perpisahan arek TK, setiap murid nggowo kado gawe bu gurune.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Sing pertama maju anake pedagang bunga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Bu gurune ngambung kadone ambek mbedhek, ”Isine kembang yo&#8230;.”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Seratus buat bu guru..” jare anake pedagang bunga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Sing kedua maju anake wong dhodhol mracang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Ambek bu gurune kadone dikocok-kocok. Wah iki rodok angel mbedheke,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">pikire.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Isine permen yo&#8230;”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Pinter bu guru..” jare anake wong dhodhol mracang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Mari ngono, maju anake wong dhodhol es krim. Pas kadone diangkat,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">dhadhak netes. Ambek bu gurune tetesane diincipi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Es krime rasa anggur yo&#8230;” jare bu gurune kemeruh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Salah&#8230;” jare areke.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Rasa stroberi tah&#8230;?” bu gurune kemeruh maneh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Salah ..” jare areke.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Wis aku nyerah, rasa opo sih iku” takok bu gurune.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Isinya anak anjing kok bu guru&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">====sg=====</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 16pt; font-family: CMR10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 16pt; font-family: CMSSBX10; color: black;">Cerito Khayal: Ngentutan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMSSBX10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Yuk Jah lungo perikso nang dokter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Opoko sampeyan ning ?” Jare doktere.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Yuk Jah terus cerito, ”Iki lho dok, wis sak wulan iki aku malih ngentutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Sak jam isok ping sepuluh aku ngentut. Cumak untunge, entutku iku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">gak mambu ambek gak onok suorone, dhadhi gak onok sing ngerti. Lha</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">iki pas aku longgo ndhik ngarepe sampeyan ae wis ping telu aku ngentut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Tapi sampeyan gak ngerti tho, mergo iku mau, entutku gak muni ambek</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">gak mambu. Cumak aku malih gak enak dhewe, mosok arek wedhok</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">ngentutan ”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Oh, ngono tah.. Lek ngono tebusen resep iki. Seminggu maneh mbaliko</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">rene maneh” jare doktere.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Pas wis seminggu yuk Jah mbalik maneh nang doktere.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Wis enakan tah ?” takok doktere.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Aku gak ngerti obat opo sing dokter kekno wingi, cumak entutku saiki</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">kokambune malih bosok gak karuan. Sampek kudhu nggeblak aku. Tapi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">untunge entutku sik tetep gak muni”, jare yuk Jah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Berarti saiki irung sampeyan wis gak buntu maneh. Saiki tebusen resep</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">ikiyo” jare doktere.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Obat opo maneh iku pak dokter ?” takok yuk Jah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Obat kopok..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">====sg=====</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 16pt; font-family: CMSSBX10; color: black;">Cerito Khayal: Lobang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMSS17; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Sakri ambek Nasip mlaku budhal mancing. Moro-moro Nasip ndhelok</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">onok lobang guedhe.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Eh ayok dites jerune sak piro se lobang iki” jare Nasip.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Sakri njupuk watu kali terus diuncalno ndhik lobang mau. Sui gak onok</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">suorone blas&#8230; ”Whuik jerune&#8230;,” jare Sakri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Watune kurang gedhe be’e, cobak kelopo” jare Nasip. Sakri njupuk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">kelopo terus diuncalno maneh ndhik lobang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Sepiii gak onok suorone&#8230;. ”Whuik jerune&#8230;,” jare Sakri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Sik golek sing luwih gedhe maneh,” jare Nasip.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Mari golek-golek, arek loro iku akhire nemu beton bekas bantalane rel</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">sepur. Berhubung abhot, betone digotong wong loro terus disurung mlebu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">lobang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Tapi yo ngono, suiii gak onok suorone&#8230; ”Cik jerune lobang iki..” jare</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Sakri Moro-moro seko semak-semak, onok wedhus mlayu katene nubruk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">arek loro. Selamete arek loro iku isok ngelesi, tapi sakno wedhuse sing</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">kecemplung lobang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Kagete jik durung ilang, moro-moro onok Wak Dri nggowo arit takok</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">nang arek loro iku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”He rek, kon ndhelok sing nyolong wedhusku tah ? Tak bacoke wonge</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">!!!”, takok Wak Dri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Wah gak ngerti Wak Dri, cumak sik tas ae onok wedhus kecemplung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">lobang iku” jare Nasip.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Oo gak mungkin.. dhudhuk wedhusku lek sing iku, wedhusku mau tak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">cancang ndhik betone rel sepur ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 16pt; font-family: CMR10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">====sg=====</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 16pt; font-family: CMR10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 16pt; font-family: CMSSBX10; color: black;">Cerito Khayal: Avtur </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMSS17; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Uwar ambek Joko koncoan apik, karo-karone kerjo ndhik Lanud Juanda</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">bagian pengisian BBM Pesawat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Bengi-bengi pas udhan deres, Juanda sepi gak onok pesawat sing wani</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">mudhun, wong loro iku malih nganggur gak onok gawean.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Adem-adem ngene enake ngombe yo” jare Uwar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Wah iyo tepak iki. Awakmu tau krungu tah lek avtur iku isok diombe?” jare Joko.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Yo tau se, jarene lek ngombe avtur isok mak busss !!..kon wani nyobak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">tah ?” Uwar mulai gunggungan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Mari ngono arek loro mbukak krane truk tanki avtur. Wis tuwuk ngombe</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">arek loro iku mulih terus keturon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Isuke pas Uwar tangi, rasane awake sueger kuat. Moro-moro onok tilpun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">muni, tibake Joko sing nilpun. ”Yok opo kon War..?” jare Joko</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Wah whuenak, kon yok opo ?” jare Uwar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Awakku yo sueger pisan. Kon gak teler tah ?” jare Joko.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Gak blas, aku yo gak ngelu blas. Wis pokoke enak. Mene nyobak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">maneh tah ?” jare Uwar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Yo setuju, cumak aku kate takok, kon wis ngentut dhurung ?” takok</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Joko.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Dhurung..” jare Uwar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Wah gawat iki. Wis pokoke kon ojok sampek ngentut yo. Diempet ae</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">sak kuatmu. .” jare Joko.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Lho opoko masalae ..?” Uwar bingung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">”Soale aku saiki ndhik Banjarmasin..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">====sg=====</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 16pt; font-family: CMSSBX10; color: black;">Cerito Khayal: Argowilis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMSS17; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Onok wong papat podho gak kenale numpak sepur Argowilis jurusan Suroboyo</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Sing pertama ibu-ibu umure sekitar 60an. Ketokane termasuk keluarga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">ningrat lek ndhelok pacakane.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Sebelahe ibu-ibu iku onok cewek ayu koyok covergirl majalah umure</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">sekitar 20an.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Ndhik ngarepe ibu-ibu iku mau onok tentara berseragam dinas, lengkap</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">karotanda jasane. Pokoke berwibawa, umure 50an.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Sebelahe tentara mau onok arek lanang gondrong umure 25an. Ketokane</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">rocker.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Selama perjalanan, wong papat iku ngobrol macem-macem. Sampek</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">moro-moro sepure mlebu terowongan athik lampune mati, dhadhi petengan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">pol. Wong papat iku malih meneng kabeh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Gak sui moro-moro onok suoro pipi disun terus mari ngono suorone wong</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">dikaplok PLAK..!!!. Wis mari ngono sepi maneh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Sing ibu-ibu iku mau mbatin, ”Wah hebat arek wedhok sebelahku iki,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">isok menjaga harga diri, gak gelem diperlakukan sembarangan”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Sing arek wedhok sebelae yo mbatin pisan, ”Gak salah tah, sing ngesun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">mau iku, wong onok arek ayu koyok aku kok malah nenek-nenek tuwek</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">sing disun”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Lha sing tentara iku ambek ngusap-ngusap pipine sing kenek kaplok</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">melok mbatin pisan, ”Jangkrik, gak melok ngesun tapi kenek kaplok. Dikiro</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">aku pengecut tah, lek aku gelem gak usah ngenteni peteng. Wah tersinggung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">aku”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">Arek rocker iku karo ngempet ngguyu melok mbatin pisan, ”Kapan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">maneh rek, isok ngaplok kolonel gathik konangan. Padahal sing tak sun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">mau iku tanganku dhewe”.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: CMR10; color: black;">====sg=====</span></p>
<div class="aizattos_related_posts"><span class="aizattos_related_posts_header" >Related Posts</span><ul><li><span class="aizattos_related_posts_title">No related posts</span></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wong-jawa.com/2009/humor-suroboyoan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ki Ageng Pamanahan</title>
		<link>http://wong-jawa.com/2009/ki-ageng-pamanahan/</link>
		<comments>http://wong-jawa.com/2009/ki-ageng-pamanahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 09:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[wong jawa ndhuwe ratu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wong-jawa.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[






Ki Ageng Pamanahan atau Ki Gede Pamanahan, adalah pendiri desa Mataram tahun 1556, yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Mataram di bawah pimpinan putranya, yang bergelar Panembahan Senapati.





Asal usul
Ki Pamanahan adalah putra Ki Ageng Henis, putra Ki Ageng Sela. Ia menikah dengan sepupunya sendiri, yaitu Nyai Sabinah, putri Nyai Ageng Saba (kakak perempuan Ki Ageng Henis).
Ki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-outline-level: 1;"><strong></strong></p>
<table class="MsoNormalTable" style="mso-cellspacing: 1.5pt; mso-yfti-tbllook: 1184;" border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="mso-yfti-irow: 0; mso-yfti-firstrow: yes; mso-yfti-lastrow: yes;">
<td style="background-color: transparent; border: #f0f0f0; padding: 0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;"><a href="http://wong-jawa.com/wp-content/uploads/2009/05/120masjid27.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-45" title="masjid" src="http://wong-jawa.com/wp-content/uploads/2009/05/120masjid27.png" alt="" width="200" height="150" /></a></span></strong></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Ki Ageng Pamanahan</span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;"> atau <strong>Ki Gede Pamanahan</strong>, adalah pendiri desa <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram"><span style="color: blue;">Mataram</span></a> tahun 1556, yang kemudian berkembang menjadi <a title="Kesultanan Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram"><span style="color: blue;">Kesultanan Mataram</span></a> di bawah pimpinan putranya, yang bergelar <a title="Panembahan Senapati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Panembahan_Senapati"><span style="color: blue;">Panembahan Senapati</span></a>.</span></li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-outline-level: 2;"><a name="Asal_usul"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Asal usul</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Ki Pamanahan adalah putra Ki Ageng Henis, putra <a title="Ki Ageng Sela" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Ageng_Sela"><span style="color: blue;">Ki Ageng Sela</span></a>. Ia menikah dengan sepupunya sendiri, yaitu <strong>Nyai Sabinah</strong>, putri Nyai Ageng Saba (kakak perempuan Ki Ageng Henis).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Ki Pamanahan dan adik angkatnya, yang bernama Ki Penjawi, mengabdi pada <a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a> bupati <a title="Pajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajang"><span style="color: blue;">Pajang</span></a> yang juga murid <a title="Ki Ageng Sela" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Ageng_Sela"><span style="color: blue;">Ki Ageng Sela</span></a>. Keduanya dianggap <em>kakak</em> oleh raja dan dijadikan sebagai lurah wiratamtama di <a title="Pajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajang"><span style="color: blue;">Pajang</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-outline-level: 2;"><a name="Peran_awal"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Peran awal</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Sepeninggal <a title="Sultan Trenggana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Trenggana"><span style="color: blue;">Sultan Trenggana</span></a> tahun 1546, <a title="Kesultanan Demak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak"><span style="color: blue;">Kesultanan Demak</span></a> mengalami perpecahan akibat perebutan takhta. Putra Sultan yang naik takhta bergelar <a title="Sunan Prawata" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Prawata"><span style="color: blue;">Sunan Prawata</span></a> tewas dibunuh sepupunya sendiri, yaitu <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang"><span style="color: blue;">Arya Penangsang</span></a>, bupati Jipang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;"><a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang"><span style="color: blue;">Arya Penangsang</span></a> yang didukung <a title="Sunan Kudus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Kudus"><span style="color: blue;">Sunan Kudus</span></a> juga membunuh Pangeran Hadiri, suami <a title="Ratu Kalinyamat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ratu_Kalinyamat"><span style="color: blue;">Ratu Kalinyamat</span></a>, putri <a title="Sultan Trenggana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Trenggana"><span style="color: blue;">Sultan Trenggana</span></a>. Sejak itu, <a title="Ratu Kalinyamat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ratu_Kalinyamat"><span style="color: blue;">Ratu Kalinyamat</span></a> memilih hidup bertapa di Gunung Danaraja menunggu kematian <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang"><span style="color: blue;">Arya Penangsang</span></a> bupati Jipang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;"><a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang"><span style="color: blue;">Arya Penangsang</span></a> ganti mengirim utusan untuk membunuh <a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a> di <a title="Pajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajang"><span style="color: blue;">Pajang</span></a> tapi gagal. <a title="Sunan Kudus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Kudus"><span style="color: blue;">Sunan Kudus</span></a> pura-pura mengundang keduanya untuk berdamai. <a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a> dating ke <a title="Kudus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kudus"><span style="color: blue;">Kudus</span></a> dikawal Ki Pamanahan. Pada kesempatan itu, Ki Pamanahan berhasil menyelamatkan <a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a> dari kursi jebakan yang sudah dipersiapkan <a title="Sunan Kudus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Kudus"><span style="color: blue;">Sunan Kudus</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Dalam perjalanan pulang, <a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a> singgah ke Gunung Danaraja. Ki Pamanahan bekerja sama dengan <a title="Ratu Kalinyamat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ratu_Kalinyamat"><span style="color: blue;">Ratu Kalinyamat</span></a> membujuk <a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a> supaya bersedia menghadapi <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang"><span style="color: blue;">Arya Penangsang</span></a>. Sebagai hadiah, <a title="Ratu Kalinyamat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ratu_Kalinyamat"><span style="color: blue;">Ratu Kalinyamat</span></a> memberikan cincin pusakanya kepada Ki Pamanahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-outline-level: 2;"><a name="Melawan_Arya_Penangsang"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Melawan Arya Penangsang</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;"><a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a> segan memerangi <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang"><span style="color: blue;">Arya Penangsang</span></a> karena masih sama-sama anggota keluarga <a title="Kesultanan Demak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak"><span style="color: blue;">Kesultanan Demak</span></a>. Maka, ia pun mengumumkan sayembara, barang siapa bisa membunuh <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang"><span style="color: blue;">Arya Penangsang</span></a> akan mendapatkan hadiah tanah <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram"><span style="color: blue;">Mataram</span></a> dan <a title="Pati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pati"><span style="color: blue;">Pati</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Ki Pamanahan dan Ki Penjawi mengikuti sayembara atas desakan <a title="Ki Juru Martani" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Juru_Martani"><span style="color: blue;">Ki Juru Martani</span></a> (kakak ipar Ki Pamanahan). Putra Ki Pamanahan yang juga anak angkat <a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a>, bernama <a title="Sutawijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutawijaya"><span style="color: blue;">Sutawijaya</span></a> ikut serta. <a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a> tidak tega sehingga memberikan pasukan <a title="Pajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajang"><span style="color: blue;">Pajang</span></a> untuk melindungi <a title="Sutawijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutawijaya"><span style="color: blue;">Sutawijaya</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Perang antara pasukan Ki Pamanahan dan <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang"><span style="color: blue;">Arya Penangsang</span></a> terjadi di dekat Bengawan Sore. Berkat siasat cerdik yang disusun <a title="Ki Juru Martani" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Juru_Martani"><span style="color: blue;">Ki Juru Martani</span></a>, <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang"><span style="color: blue;">Arya Penangsang</span></a> tewas di tangan <a title="Sutawijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutawijaya"><span style="color: blue;">Sutawijaya</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;"><a title="Ki Juru Martani" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Juru_Martani"><span style="color: blue;">Ki Juru Martani</span></a> menyampaikan laporan palsu kepada <a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a> bahwa <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang"><span style="color: blue;">Arya Penangsang</span></a> mati dibunuh Ki Pamanahan dan Ki Penjawi. Apabila yang disampaikan adalah berita sebenarnya, maka dapat dipastikan <a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a> akan lupa memberi hadiah sayembara mengingat <a title="Sutawijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutawijaya"><span style="color: blue;">Sutawijaya</span></a> adalah anak angkatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-outline-level: 2;"><a name="Membuka_Mataram"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Membuka Mataram</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;"><a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a> memberikan hadiah berupa tanah <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram"><span style="color: blue;">Mataram</span></a> dan <a title="Pati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pati"><span style="color: blue;">Pati</span></a>. Ki Pamanahan yang merasa lebih tua mengalah memilih <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram"><span style="color: blue;">Mataram</span></a> yang masih berupa hutan lebat, sedangkan Ki Penjawi mandapat daerah <a title="Pati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pati"><span style="color: blue;">Pati</span></a> yang saat itu sudah berwujud kota.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Bumi <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram"><span style="color: blue;">Mataram</span></a> adalah bekas kerajaan kuno yang runtuh tahun 929. Seiring berjalannya waktu, daerah ini semakin sepi sampai akhirnya tertutup hutan lebat. Masyarakat menyebut hutan yang menutupi <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram"><span style="color: blue;">Mataram</span></a> dengan nama <a title="Alas Mentaok" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alas_Mentaok"><span style="color: blue;">Alas Mentaok</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Setelah kematian <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang"><span style="color: blue;">Arya Penangsang</span></a> tahun 1549, <a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Hadiwijaya</span></a> dilantik menjadi raja baru penerus <a title="Kesultanan Demak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak"><span style="color: blue;">Kesultanan Demak</span></a>. Pusat kerajaan dipindah ke <a title="Pajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajang"><span style="color: blue;">Pajang</span></a>, di daerah pedalaman. Pada acara pelantikan, <a title="Sunan Prapen (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sunan_Prapen&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color: blue;">Sunan Prapen</span></a> cucu (<a title="Sunan Giri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Giri"><span style="color: blue;">Sunan Giri</span></a>) meramalkan kelak di daerah <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram"><span style="color: blue;">Mataram</span></a> akan berdiri sebuah kerajaan yang lebih besar dari pada <a title="Pajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajang"><span style="color: blue;">Pajang</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Ramalan tersebut membuat <a title="Sultan Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Sultan Hadiwijaya</span></a> resah. Sehingga penyerahan Alas Mentaok kepada Ki Pamanahan ditunda-tunda sampai tahun 1556. Hal ini diketahui oleh <a title="Sunan Kalijaga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Kalijaga"><span style="color: blue;">Sunan Kalijaga</span></a>, guru mereka. Keduanya pun dipertemukan. Dengan disaksikan <a title="Sunan Kalijaga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Kalijaga"><span style="color: blue;">Sunan Kalijaga</span></a>, Ki Pamanahan bersumpah akan selalu setia kepada <a title="Sultan Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hadiwijaya"><span style="color: blue;">Sultan Hadiwijaya</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Maka sejak tahun 1556 itu, Ki Pamanahan sekeluarga, termasuk <a title="Ki Juru Martani" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Juru_Martani"><span style="color: blue;">Ki Juru Martani</span></a>, pindah ke <a title="Hutan Mentaok" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_Mentaok"><span style="color: blue;">Hutan Mentaok</span></a>, yang kemudian dibuka menjadi desa <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram"><span style="color: blue;">Mataram</span></a>. Ki Pamanahan menjadi kepala desa pertama bergelar Ki Ageng Mataram. Adapun status desa <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram"><span style="color: blue;">Mataram</span></a> adalah desa perdikan atau daerah bebas pajak, di mana Ki Ageng Mataram hanya punya kewajiban menghadap saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><em><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;"><a title="Babad Tanah Jawi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Babad_Tanah_Jawi"><span style="color: blue;">Babad Tanah Jawi</span></a></span></em><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;"> juga mengisahkan keistimewaan lain yang dimiliki Ki Ageng Pamanahan selaku leluhur raja-raja <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram"><span style="color: blue;">Mataram</span></a>. Konon, sesudah membuka desa <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram"><span style="color: blue;">Mataram</span></a>, Ki Pamanahan pergi mengunjungi sahabatnya di desa Giring. Pada saat itu Ki Ageng Giring baru saja mendapatkan buah kelapa muda bertuah yang jika diminum airnya sampai habis, si peminum akan menurunkan raja-raja <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa"><span style="color: blue;">Jawa</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Ki Pamanahan tiba di rumah Ki Ageng Giring dalam keadaan haus. Ia langsung menuju dapur dan menemukan kelapa muda ajaib itu. Dalam sekali teguk, Ki Pamanahan menghabiskan airnya. Ki Giring tiba di rumah sehabis mandi di sungai. Ia kecewa karena tidak jadi meminum air kelapa bertuah tersebut. Namun, akhirnya Ki Ageng Giring pasrah pada takdir bahwa Ki Ageng Pamanahan yang dipilih <a title="Tuhan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan"><span style="color: blue;">Tuhan</span></a> untuk menurunkan raja-raja <a title="Pulau Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Jawa"><span style="color: blue;">pulau Jawa</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Ki Ageng Pamanahan memimpin desa <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram"><span style="color: blue;">Mataram</span></a> sampai meninggal tahun 1584. Ia digantikan putranya, yaitu <a title="Sutawijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutawijaya"><span style="color: blue;">Sutawijaya</span></a> sebagai pemimpin desa selanjutnya.Kelak <a title="Sutawijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutawijaya"><span style="color: blue;">Sutawijaya</span></a> menjadi raja <a title="Mataram Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram_Islam"><span style="color: blue;">Mataram Islam</span></a> yang pertama dengan nama <a title="Panembahan Senopati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Panembahan_Senopati"><span style="color: blue;">Panembahan Senopati</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;"> </span></p>
<div class="aizattos_related_posts"><span class="aizattos_related_posts_header" >Related Posts</span><ul><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://wong-jawa.com/2009/tradisi-sungkem/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Tradisi Sungkêm" >Tradisi Sungkêm</a></span><div class="aizattos_related_posts_excerpt">Wóntên ing budåyå utawi falsafah Jawi kathah bab ingkang wigatós tumrap kulåwargå lan bêbray...</div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wong-jawa.com/2009/ki-ageng-pamanahan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>02=menikmati hidup.</title>
		<link>http://wong-jawa.com/2009/02menikmati-hidup/</link>
		<comments>http://wong-jawa.com/2009/02menikmati-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 04:57:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[cerita hidup]]></category>

		<category><![CDATA[menikmati hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wong-jawa.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[ 
Terjaga di tengah malam, dhe Sur menggapai anak ragilnya yang terlelap mengempot jempol tangannya sendiri di sampingnya. Bagus bergelung dalam dekapan bapaknya, menyambut rengkuhan hangat penuh kasih itu. Sementara sang istri, budhe Marni tengah asyik dengan mimpinya sendiri, esemannya menunjukkan mimpi indah sedang hinggap di alam relaksasinya.
Sementara itu di luar rumah gedhong penuh kehangatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Terjaga di tengah malam, dhe Sur menggapai anak ragilnya yang terlelap mengempot jempol tangannya sendiri di sampingnya. Bagus bergelung dalam dekapan bapaknya, menyambut rengkuhan hangat penuh kasih itu. Sementara sang istri, budhe Marni tengah asyik dengan mimpinya sendiri, </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">eseman</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">nya menunjukkan mimpi indah sedang hinggap di alam relaksasinya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sementara itu di luar rumah </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">gedhong</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> penuh kehangatan itu, dilihat dari teras </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">,</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"><span> </span>bulan terlihat bertengger di sela-sela ranting pohon mangga Gadhung di depan rumah. Angin kumlitir lambat lantur mencipta kesejukan malam, menggoyangkan dedaunan mangga Gadhung yang sedang bersaing hijau dengan dedaunan benalu. Suara kelepak sayap kelelawar buah atau </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">codot</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> yang berrebut mangga mengusik keheningan malam.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Desa Padhas memasuki pagi saat embun turun, rumput menggeliat, kelelawar menghilang bersama rembulan dan </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">baskara</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> atau matahari lambat-lambat mengintip dari garis batas bumi dan langit bertemu. Beberapa penduduk yang berjualan di pasar telah bangun dan berangkat ke pasar sejak tadi, sementara yang menjadi petani, satu dua orang telah berangkat ke sawah, yang jadi kuli juga bersiap pergi, begitu juga yang jadi pegawai, punya kewajiban hidup yang sama.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kacarita</span></em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">, ini tentang kisah sebuah keluarga dengan lingkungan yang selalu bersinggungan dengan keseharian salah satu atau seluruh anggota keluarga. Adalah pakdhe Suryo atau yang biasa dipanggil dhe Sur oleh para tetangga, seorang kepala keluarga yang sabar bijaksana. Budhe Marni sebagai ibu dari anak-anak dhe Sur yang masih kecil-kecil. Tiyas, anak pertama dhe Sur memang sudah kelas 1 SMP dan kadang bisa dibilang sudah tidak kecil lagi, tapi jika melihat usia dhe sur yang sudah kepala lima, maka wajar jika dibilang anak-anaknya masih kecil. Pasalnya dhe Sur pernah telat menikah saat muda, beliau menikah kala usia hampir mencapai 38 tahun. Namun begitu, budhe Marni masihlah muda, 37 tahun kini usianya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Anak kedua, bernama Bagus, seorang jagoan bagi dhe Sur, lama sudah dhe Sur <em>ngggandrung</em> seorang anak lelaki sebelum Bagus lahir 6 tahun yang lalu. Kini Bagus sudah kelas 1 SD di dekat rumah, namun rasa sayang dhe Sur yang sangat padanya membuat Bagus hingga kini masih tidur bersama kedua orang tuanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dhe Sur memang dituakan dan disungkani oleh warga di sekitar rumahnya. Biasalah orang kampung, memilah derajat orang berdasar jabatan atau pangkat seseorang, apalagi jika orang itu penuh dinaungi kewibawaan seperti dhe Sur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dhe Sur adalah seorang pegawai negeri sipil atau PNS istilahnya, seorang pegawai dinas pekerjaan umum di kabupaten Wlidah. Kota kabupaten Wlidah berjarak kurang lebih 18 kilo meter dari padhukuhan Padhas, kampung tinggal dhe Sur dan keluarganya. Jika ditempuh dengan motor kecepatan standart, akan memakan waktu 30 hingga 45 menit. Namun berbeda untuk dhe Sur yang memakai falsafah jawa dari salah satu aksara jawa, <strong>Bo</strong>, <em>Bayu sejati kang andalani</em> atau menyelaraskan diri pada gerak alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Cukuplah bagi dhe Sur menempuh jarak menuju kantornya itu dengan kecepatan 40KM/jam saja sehingga dengan macet-macetnya butuh waktu kurang lebih satu jam menuju kantor dari rumahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bagi dhe Sur, hidup haruslah dinikmati senikmat mungkin, maka karenanya lah dhe Sur memilih perjalanan pagi menuju kantor perlu ia isi dengan <em>nglaras</em> <em>urip</em> atau menikmati hidup. Menikmati silir angin pagi yang menerpa beberapa helai uban yang sedikit menghiasi rambutnya yang mulai menipis, memang hanya beberapa helai, namun cukup menampakkan jika usianya sudah kepala lima. Menikmati pemandangan sorang pengembala yang selalu mengejar-ngejar <em>wedhus</em> <em>pruculnya</em> hampir setiap pagi sesaat sebelum dhe Sur meninggalkan <em>tlatah</em> Driyorejo Menikmati sapa beberapa teman sekantor maupun tidak sekantor saat <em>menyalip</em> laju motornya. Menikmati warna belang hitam putih setiap <em>zebra</em> <em>croos</em> yang ia lewati. Menikmati gelisah wajah para pelajar yang menanti angkutan di tepian jalan yang ia lewati. Dan masih banyak pemandangan hidup penuh makna disetiap milimeter jarak yang ia tempuh setiap pagi sambil menghirup setiap partikel udara dalam pagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sebenarnya masih banyak falsafah hidup kejawen dhe Sur yang lain yang mengakar disetiap kehidupan dhe Sur. Diantaranya adalah falsafah dari aksara-aksara jawa, misalnya:<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Do to so wo lo, yang dimaknakan dalam </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">kepungan</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> atau lingkungan jawa sebagai:</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Do, </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dumadining dzat kang tanpa winangenan </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">To, Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">So, Sifat ingsun handulu sifatullah </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Wo, Wujud hana tan kena kinira</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Lo, Lir handaya paseban jati </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Yang diartikan bahwa: </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kita harus </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">menerima hidup apa adanya,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Mendasar, totalitas, satu visi, teliti dan berwibawa,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bersifat kasih sayang seperti kasih Tuhan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ilmu manusia terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas</span></em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">, serta,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><strong><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">~*~</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Jago kluruk rame kapiyarsi,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Lawa kalong luru pandhelikan,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Jrih kawanen ing semune,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Wetan bang sulakipun,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Mertandhani yen bangun enjing.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Rembulane wis gumlewang,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Neng kulone gunung,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ing padesan wiwit obah,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Lanang wadhon pan samya anyambut kardi,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Netepi kuwajiban.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Terjemah:</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Jago berkokok ramai sekali,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kelelawar buah mencari tempat bersembunyi,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Takut kesiangan dalam rautnya,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Timur raya sudah merah sorotnya,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pertanda jika sudah pagi.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bulan sudah langsir,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Di sisi barat gunung,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Di desa mulai bergerak,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Lelaki dan perempuan pergi bekerja.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Memenuhi kewajiban.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Lantang namun merdu suara dhe Sur mengalunkan tembang Dhandhang Gula di pagi yang masih berkabut, </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Srengenge kudup</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> di timur dengan langit penuh semburat merahnya. Dengan semangat dhe Sur melakoni kegiatan pagi harinya, memandikan perkutut kesayangannya, Untung namanya. Sebuah nama yang diberikanbukan tanpa alasan. Dulu dhe Sur punya perkutut yang dinamai Bejo, namun rupanya si Bejo tidaklah </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">bejo</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> atau beruntung seperti namanya. Bejo sakit lalu mati muda dalam usia kurang dari satu tahun.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Keeeer….Keeeer…ck..ck..ck..” dhe Sur </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">ngudang</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> si Untung sambil menjentikkan jarinya di depan muka Untung. Sangkar Untung dikeluarkan dari dalam rumah, hendak digantungkan diteras.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sementara itu, di dalam rumah terdengar suara budhe Marni yang sedang membahas menu makan siang untuk hari itu dengan mak Yah, pembantu di rumah itu. Suara Tiyas yang sedang berrebut kamar mandi dengan Bagus menyelingi obrolan budhe Mar dan mak Yah sesekali.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Ayo tung, </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">manggungo</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">!” dhe Sur menyuruh Untung berkicau.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Kung kung.…kuku….…kukuung…” riang Untung menyambut pinta pemiaranya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Suka cita dhe Sur mendengar kicau Untung Ia segera memandikan Untungdengan semprotan berleher yang sudah di isi dengan air bersih sambil nembang Dhandhang Gula lagi.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Pakne-Pakne, </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">mbok</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> ya o jangan nembang sambil </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">ngudang</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> perkutut wae, iki lho, anakke </span></em><em></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> diurusi!” rupanya budhe Mar sedang kehilangan keseimbangan emosi pagi ini. Padahal biasanya budhe Mar tak pernah sekalipun mengkomplain kebiasaan dhe Sur yang sudah dilakoni selama bertahun-tahun itu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Budhe Mar sangat sadar selama ini, jika kecintaan suaminya pada perkutut tak bisa lagi </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">dipenggak</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> (dilarang). Perkutut bagaikan separuh jiwa dhe Sur, perkutut adalah sahabat dhe Sur, dan perkutut adalah sebuah lambang kesejahteraan. Sebab jaman dulu, perkutut adalah piaraan para sultan dan demang yang hidupnya sudah pasti penuh kesejahteraan. Seperti halnya keris, keris</span></em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> adalah lambang keberanian dan percaya diri. Berani dan percaya bahwa Tuhan akan menolong siapa pun yang menegakkan kebenaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Diurusi gimana lagi <em>tho</em> Bune?, wong sudah pada <em>gedhe</em>.” Sahut dhe Sur pada istrinya tanpa menoleh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Ya dinasehati atau apa gitu biar tidak pada <em>satru!</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Iya-iya, Buk”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Jangan iya-iya saja, <em>mbok</em> ya o di<em>tandhangi</em>!” gerutu budhe Mar sambil masuk lagi ke dalam rumah. Insaf jika suaminya tak akan memarahi anak-anak seperti yang ia harap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Rumah itu bagus dan rindang oleh sepohon mangga Gadhung yang menjulang di depan rumah. Dhe Sur membeli tanah itu dari pak kamituwa sepuluh tahun yang lalu, saat Tiyas masih berumur 3 tahun, lalu tahun berikutnya dhe Sur sudah mampu membangun sebuah rumah tinggal yang sangat layak bahkan dapat dibilang sangat bagus untuk ukuran rumah di perkampungan seperti Padhas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dulunya dhe Sur masih tinggal di rumah mertuanya diujung desa. Namun semangat untuk makmur membuat dhe Sur mampu meraih apa yang ia inginkan. Falsafah hidup yang ia anut telah menentramkan hidup dan hatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><strong><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">~*~</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Wedhus</span></em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> <em>prucul</em> tanpa tali itu kembali berlarian dengan tengilnya dikejar-kejar oleh pengembalanya saat dhe Sur menderu di atas motornya pagi itu. Dalam hati dhe Sur heran juga, mengapa<span> </span>tidak segera diberi tali saja biar mudah menggembalakannya seperti <em>wedhusnya</em> yang lain. Mungkin saja si pengembala masih kasihan padanya karena usianya masih sangat muda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sebentar kemudian dhe Sur sudah meninggalkan batas desa, membelok di perempatan dan memasuki jalan raya yang dipenuhi hiruk pikuk angkutan yang <em>ngetem (</em>berhenti berlama-lama menunggu penumpang<em>)</em> sembarangan mencari penumpang. Mereka berlambat-lambat untuk mengumpulkan pemumpang namun bukan berarti sependapat dengan falsafah hidup dhe Sur. Sebab <em>ngelaras</em> bukan berarti tidak disiplin, <em>mbolor</em>, dan tanaturan seperti angkot-angkot itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ngelaras</span></em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> berarti melaksanakan rutinitas lantur-lantur, tidak terburu-buru, teratur, terkoordinasi, disiplin dan tepat waktu, terrencana dan tidak <em>ngege</em> <em>mongso</em>.</span><strong> </strong><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Nggege</span></em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> <em>mongso</em> adalah <strong><span style="font-weight: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">terburu-buru menginginkan sesuatu sebelum waktunya.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Langit masih satu warna pagi ini, biru cerah tanpa awan, namun wajah para sopir angkot tak secerah itu rupanya. Saat dhe Sur hendak melewati pasar mendadak salah satu angkot menyerobot mendahului laju motor dhe Sur yang hanya berkecepatan 40 KM/jam, membelok seenak bempernya merapat ke kiri untuk menurunkan penumpang dengan serampangan. Telak, angkot itu hampir saja menyerundul ban depan motor dhe Sur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sabar, dhe Sur tak hendak mengumpat atau marah-marah, ia justru memilih berhenti sejenak hingga angkot itu selesai dengan hajatnya dan kembali menancap gas <em>nggendring sipat kuping</em>. Ia hanya <em>mesem</em>. Ia tahu, jika ia menyalip angkot itu saat berhenti, maka tak lama lagi ia akan mengalami hal yang sama lagi, diserobot, didahului dan dibuat kesal lagi. Dhe Sur tahu bahwa jika ia menuruti emosi, maka sikap menang sendiri sopir angkot hanya akan <em>memitran</em> dengan emosinya untuk membuat suatu perseteruan. Dan hanya kepala dingin yang bisa mengatasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Inilah yang dimaksud<em> Sifat ingsun handulu sifatullah - Bersifat kasih sayang seperti kasih Tuhan.</em> Seperti cerita <em>lawas</em>, <em>kancil balapan karo keyong</em>. Dalam cerita itu tersirat sebuah pesan moral, bukan kecerdikan <em>keyong</em>/siput, tapi ini tentang keberanian dan kepercayaan diri siput. Berani dan percaya bahwa Tuhan akan menolong siapa pun yang menegakkan kebenaran. Melumpuhkan kesombongan kancil yang biasanya terkenal sebagai binatang tercerdik di hutan. Sebuah pesan, bahwa di atas langit ada langit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Saat siput menerima tantangan kancil untuk berlomba lari, bukan berarti siput hanya menuruti emosi, ataupun terlalu percaya diri bahwa Tuhan akan membantu dengan ajaib, bukan. Siput menerima tantangan itu karena ia telah memikirkan rencana, ia punya koordinasi dengan teman-temannya yang nampak serupa, dan ia punya usaha untuk mencapai tujuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dhe Sur menggunakan filosofi siput yang memikirkan rencana untuk melawan atau mengalah saja pada angkot hari ini. Ia sabar dan penuh rencana, bahwa jika ia melawan angkot itu, maka hanya saling <em>satru</em> lah yang di dapat. Apa yang nikmat dari saling <em>satru</em>, saling emosi. Bukankah ngalah tidak berarti kalah?, jadi apa salahnya jika kita ngalah.</span> <span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">berbuat dan bertindak atas dasar sabar, ikhlas dan ridhlo, serta welas dan Asih terhadap sesama makhluk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Itulah sebab mengapa dhe Sur menggunakan filosofi siput, sebagai salah satu falsafah hidupnya. Siput yang dalam 1001 tafsir mimpi mengusung angka 02 dalam perlambangannya. Bahwa nomor satu bukanlah segalanya. Bahwa lambat bukan berarti tidak hebat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><strong><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">~*~</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><em><strong><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><em><strong><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kapustakan</span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">(Garan pangracikipun 02: Nglaras Urip/Menikmati Hidup).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: black;">Sumantri, Bambang. 2002. Jalan Kesuksesan Hidup. Jakarta: Elex Media Komputindo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: black;">Kariyan. 2008. <em>Makna Huruf Jawa</em>. (<span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.kariyan.wordpress.com/"><em><span style="color: black;">Http://www.kariyan.wordpress.com</span></em></a></span>, diakses 09 mei 2009).</span><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Siswadi. 1988. </span></em><em><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kridha Basa 1</span></em><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">. Klaten: PT Intan Pariwara.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt; line-height: 150%;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> 1001 tafsir mimpi :Togel memang oyee.<br />
</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;"><em><span style="font-style: normal; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: black;"> </span></em></p>
<div class="aizattos_related_posts"><span class="aizattos_related_posts_header" >Related Posts</span><ul><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://wong-jawa.com/2009/wayang/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Wayang" >Wayang</a></span><div class="aizattos_related_posts_excerpt">Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti "bayangan".
Jika ditinjau dari arti filsafatnya "wayang" dap...</div></li><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://wong-jawa.com/2009/ki-ageng-pamanahan/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Ki Ageng Pamanahan" >Ki Ageng Pamanahan</a></span><div class="aizattos_related_posts_excerpt">








	Ki Ageng Pamanahan atau Ki Gede Pamanahan, adalah pendiri desa Mataram tahun 1556...</div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wong-jawa.com/2009/02menikmati-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Wong Jawa?</title>
		<link>http://wong-jawa.com/2009/mengapa-wong-jawa/</link>
		<comments>http://wong-jawa.com/2009/mengapa-wong-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 13:51:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang Kami]]></category>

		<category><![CDATA[jawa]]></category>

		<category><![CDATA[kami]]></category>

		<category><![CDATA[wong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wong-jawa.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[
wong:artinya orang,jadi lebih merujuk kepada manusianya.sesuatu yang lebih luas daripada tempat(pulau jawa) karena kita tahu keberadaan wong jawa juga ada diluar jawa bahkan diluar indonesia,malahan mendirikan negara tersendiri(suriname contohnya).Wong jawa lebih merujuk kemanusianya(human being) yang tentu lebih luas daripada sekedar seni,budaya ataupun sikap hidupnya.lalu pertanyaannya siapakah wong jawa itu?mari kita bersama-sama membuka diri lebih luas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="post-body">
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-4" title="didikboedhi" src="http://wong-jawa.com/wp-content/uploads/2009/05/didikboedhi1.jpg" alt="" width="100" height="111" />wong:artinya orang,jadi lebih merujuk kepada manusianya.sesuatu yang lebih luas daripada tempat(pulau jawa) karena kita tahu keberadaan wong jawa juga ada diluar jawa bahkan diluar indonesia,malahan mendirikan negara tersendiri(suriname contohnya).Wong jawa lebih merujuk kemanusianya(human being) yang tentu lebih luas daripada sekedar seni,budaya ataupun sikap hidupnya.<span id="more-35"></span>lalu pertanyaannya siapakah wong jawa itu?mari kita bersama-sama membuka diri lebih luas mengenai hal itu.<br />
Jawa:mengapa bukan jowo?dimana memakai huruf O, dan sudah menjadi identitas orang jawa.Kami lebih memilih jawa dan bukan jowo hanya karena alasan praktis saja,bahwa pemakaian atau bahasa pengantar untuk blog ini adalah bahasa indonesia dan bukan boso jowo.Mungkin hal ini masih bisa diperdebatan panjang lebar,hanya saja moggo kita masuk,mengakses,uri-uri,mengembangkan bahkan hamelu handarbeni(merasa ikut memiliki).sumonggo&#8230;</div>
<p class="post-footer-line post-footer-line-2"><span class="post-labels"> Label: <a rel="tag" href="http://wong--jawa.blogspot.com/search/label/mengapa%20wong%20jawa%3F">mengapa wong jawa?</a> </span></p>
<div class="aizattos_related_posts"><span class="aizattos_related_posts_header" >Related Posts</span><ul><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://wong-jawa.com/2009/02menikmati-hidup/" rel="bookmark" title="Permanent Link: 02=menikmati hidup." >02=menikmati hidup.</a></span><div class="aizattos_related_posts_excerpt"> 
Terjaga di tengah malam, dhe Sur menggapai anak ragilnya yang terlelap mengempot jempol tangannya...</div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wong-jawa.com/2009/mengapa-wong-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tradisi Sungkêm</title>
		<link>http://wong-jawa.com/2009/tradisi-sungkem/</link>
		<comments>http://wong-jawa.com/2009/tradisi-sungkem/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 00:50:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Adat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wong-jawa.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Wóntên ing budåyå utawi falsafah Jawi kathah bab ingkang wigatós tumrap kulåwargå lan bêbrayan.  Túk lan wós-ipún wóntên ing raós lan watak élíng.
Upaminipún élíng dhatêng Gusti Ingkang Måhå Kawåså, råmå, ibu, éyang, pårå alim lan ngulåmå, kadang sêntånå, mitrå, guru, pårå pangêmbatíng pråjå, lan pêmimpín sanèsipún. Têbanipún raós élíng sagêt malêmbar dhatêng tlatah padhusunan, papan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wóntên ing budåyå utawi falsafah Jawi kathah bab ingkang wigatós tumrap kulåwargå lan bêbrayan.  Túk lan wós-ipún wóntên ing raós lan watak élíng.<br />
Upaminipún élíng dhatêng Gusti Ingkang Måhå Kawåså, råmå, ibu, éyang, pårå alim lan ngulåmå, kadang sêntånå, mitrå, guru, pårå pangêmbatíng pråjå, lan pêmimpín sanèsipún. Têbanipún raós élíng sagêt malêmbar dhatêng tlatah padhusunan, papan kalairan, pundhèn, patilasan, pasabinan, patêgilan, miwah lingkungan alam sanèsipún.<span id="more-25"></span><br />
Sadåyå ingkang  hanggadhahi  tabêt, sambêt, miwah labêt, lajêng  mbabar lan nuwúhakên  raós élíng ingkang mbótên sagêt ical.<br />
Kalêbêt ing ngriki raós élíng dhatêng pårå lêluhúr lan pårå pêpundhèn ingkang sampún kondúr ing têpêt suci miwah élíng dhatêng sangkan paraníng dumadi.Mustikanipún budåyå Jawi  ingkang arupi raós élíng têbanipún jêmbar sangêt.<br />
Raós élíng cakêt lan rakêt kaliyan mênåpå kémawón ingkang sagêt nggugah raós lan krêntêg kêpéngín sowan, mêrtuwi, ngúrmati, ngabêkti, miwah misungsúngakên mênåpå kémawón ingkang sagêt  damêl rênaníng panggalíh.<br />
Têtunggulíng budåyå Jawi ingkang arupi raós élíng mujúdakên satunggalíng kêarifan lokal (local genius) ingkang taksíh lêstari.<br />
Dåyå kêkiyatanipún  ngédab-édabi ingkang lajêng nuwúhakên tèkad  nguri-uri tuwín nglêstarèkakên.<br />
Tåtåcaranipún lajêng dipúntrêpakên kaliyan  papan, kawóntênan utawi wêkdal ingkang saé, mliginipún ingkang sambêt kaliyan dintên-dintên agêng wóntên ing  ajaran agami. Tradisi sungkêm kalêbêt pérangan budaya Jawi ingkang dumugi wêkdal samangké taksíh dipúnuri-uri tuwín dipúnlêstarèkakên déning bêbrayan Jawi.<br />
Pramilå inggíh lajêng mbótên anèh manawi lajêng wóntên kaanan ingkang sinêbat mudhik.<br />
Kaanan mudhík ingkang sabên taún såyå kathah lajêng nuwúhakên prêkawís ingkang warni-warni.<br />
Wóntên kawóntênan jêjêl riyêl ing sêtasiún, têrminal bís, bandara utawi pêlabuhan, lalu lintas ingkang macêt,  bêbåyå utawi kacilakan ing margi, lan sanès-sanèsipún; ingkang sadayanipún lajêng pikantúk kawigatósan  déníng pamaréntah.<br />
Kahanan makatên lumam-pah dangu sangêt lan dumadós ing sabên taún. Pramilå lajêng wóntên pamanggíh manawi mudhik sampún dadós budåyå tumrap bêbrayan Jawi ingkang angèl dipúnicali. Tradisi sungkêman sampún lumampah dangu sangêt, cakêt lan rakêt kaliyan dintên agúng agami Islam inggíh mênikå Idúl Fitri.<br />
Sungkêman dipún wóntêni ing swasånå Idúl Fitri sasampunipún umat Islam nglampahi siyam miwah mèpèr håwå nafsu ing wulan Ramadhan.<br />
Pårå putra utawi wayah  nindakakên sungkêm, kónjêm, lan ngabêkti dhatêng Sri Susuhunan, Pangagêng Puró, éyang, råmå-ibu sadhèrèk sêpúh lan sanès-sanèsipún. Lumantar adicårå sungkêman, råmå-ibu tuwin pårå-pårå ingkang kalêbêt sêpúh rumaós dipún bêktèni lan dipúnurmati déníng putrå wayah utawi kanèman sanèsipún. Wós utawi substansi  ing tradisi sungkêman nyakúp lan ngukúp  bab  wigatós inggíh mênikå dêdósan utawi kalêpatan ingkang kasuwún supadós dipúnapurå.<br />
Swasana ’apurå ingapuran’ dipún wujúdakên wóntên ing dintên riyadi linambaran panyuwunan dhatêng Allah Subhanahuwata’ala supadós nglêbúr dêdósan lan kalêpatan ingkang sampún dipún tindakakên. Tradisi sungkêm ingkang ngrêgêm nilai (values) ingkang saé, éndah, lan murakabi tumrap bêbrayan  sampún nyawiji ing dintên agúng Idúl Fitri tuwin manjíng ing swasånå  halal bi halal utawi  silaturahmi tumrap masyarakat Jawi.<br />
Tradisi sung-kêman ingkang sampún dadós  jatidiri masyarakat Jawi mbótên badhé ical kabucal jaman global. Mugi-mugi  makatên.</p>
<div class="aizattos_related_posts"><span class="aizattos_related_posts_header" >Related Posts</span><ul><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://wong-jawa.com/2009/wayang/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Wayang" >Wayang</a></span><div class="aizattos_related_posts_excerpt">Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti "bayangan".
Jika ditinjau dari arti filsafatnya "wayang" dap...</div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wong-jawa.com/2009/tradisi-sungkem/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang</title>
		<link>http://wong-jawa.com/2009/wayang/</link>
		<comments>http://wong-jawa.com/2009/wayang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 00:47:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wong-jawa.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti &#8220;bayangan&#8221;.
Jika ditinjau dari arti filsafatnya &#8220;wayang&#8221; dapat diartikan sebagai bayangan atau merupakan pencerminan dari sifat-sifat yang ada dalam jiwa manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lain-lain.
Sebagai alat untuk memperagakan suatu ceritera wayang.
Dimainkan oleh seorang dalang yang dibantu oleh beberapa orang penabuh gamelan dan satu atau dua orang waranggana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="size-full wp-image-19 alignleft" title="kayon" src="http://wong-jawa.com/wp-content/uploads/2009/05/kayon.gif" alt="" width="250" height="396" /><span class="stylekds7">Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti &#8220;bayangan&#8221;.<br />
Jika ditinjau dari arti filsafatnya &#8220;wayang&#8221; dapat diartikan sebagai bayangan atau merupakan pencerminan dari sifat-sifat yang ada dalam jiwa manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lain-lain.<br />
Sebagai alat untuk memperagakan suatu ceritera wayang.<br />
Dimainkan oleh seorang dalang yang dibantu oleh beberapa orang penabuh gamelan dan satu atau dua orang waranggana sebagai vokalisnya. </span><span id="more-18"></span><br />
<span class="stylekds7">Di samping itu, seorang dalang kadang kadang juga mempunyai seorang pembantu khusus untuk dirinya, yang bertugas untuk mengatur wayang sebelum permainan dimulai dan mempersiapkan jenis tokoh wayang yang akan dibutuhkan oleh dalang dalam menyajikan ceritera.<br />
Fungsi dalang di sini adalah mengatur jalannya pertunjukan secara keseluruhan.<br />
Dialah yang memimpin semua crewnya untuk luluh dalam alur ceritera yang disajikan.<br />
Bahkan sampai pada adegan yang kecil-kecilpun harus ada kekompakan di antara semua crew kesenian tersebut.<br />
Dengan demikian, di samping dituntut untuk bisa menghayati masing-masing karakter dari tokoh-tokoh yang ada dalam pewayangan, seorang dalang juga harus mengerti tentang gending (lagu).<br />
Desain lantai yang dipergunakan dalam permainan wayang berupa garis lurus, dan dalam memainkan wayang, seorang dalang dibatasi oleh alas yang dipakai untuk menancapkan wayang.<br />
Dalam pertunjukan wayang dikenal set kanan dan set kiri.<br />
Set kanan merupakan kumpulan tokoh tokoh atau satria-satria pembela kebenaran dan kebajikan, sedangkan set kiri adalah tempat tokoh-tokoh angkara murka.<br />
Walaupun demikian ketentuan ini tidak mutlak.<br />
Untuk memperagakan berbagai setting/dekorasi dan pergantian adegan biasanya dipakai simbol berupa gunungan.<br />
Pertunjukan wayang bisa dilakukan pada siang maupun malam hari, atau sehari semalam.<br />
Lama pertunjukan untuk satu lakon adalah sekitar 7 sampai 8 jam.<br />
Instrumen musik yang digunakan dalam mengiringi pertunjukan wayang secara lengkap adalah gamelan Jawa pelog dan slendro, tetapi bila tidak lengkap yang biasa digunakan adalah dan jenis slendro saja.<br />
Vokalis putri dalam iringan musik yang disebut waranggono bisa satu orang atau lebih.<br />
Di samping itu, masih ada vokalis pria yang disebut penggerong atau wirasuara, yang jumlahnya 4 sampai 6 orang dan bertugas mengiringi waranggana dengan suara &#8220;koor&#8221;.<br />
Vokalis pria ini bisa disediakan khusus atau dirangkap oleh penabuh gamelan, sehingga penabuh gamelan adalah juga penggerong.<br />
Dalam menentukan lakon yang akan disajikan seorang dalang tidak bisa begitu saja memilih sesuai dengan kehendaknya.<br />
Ia dibatasi oleh beberapa faktor.<br />
Diantaranya adalah:<br />
(1) jenis wayang yang dipergunakan sebagai alat peragaan;<br />
(2) kepercayaan masyarakat sekitarnya;<br />
(3) keperluan diadakannya pertunjukan tersebut.<br />
Jenis wayang akan mempengaruhi lakon yang bisa disajikan lewat wayang-wayang tersebut.<br />
Seperangkat wayang kulit misalnya hanya dapat dipakai untuk memainkan ceritera-ceritera dari Mahabarata atau Ramayana.<br />
Wayang kulit tidak bisa di pakai untuk menampilkan babad Menak.<br />
Sebaliknya perangkat wayang golek tidak dapat digunakan untuk melakonkan Mahabarata, ini dikarenakan tokoh tokoh yang ada dalam wayang-wayang tersebut memang sudah dibuat untuk pementasan lakon-lakon (ceritera-ceritera) tertentu.<br />
Dalam suatu masyarakat, terutama masyarakat pedesaan, yang masih patuh pada tradisi dan adat istiadat peninggalan para leluhurnya, banyak kita jumpai pantangan-pantangan atas suatu lakon tertentu untuk pertunjukan wayang.<br />
Sebagian masyarakat misalnya beranggapan bahwa lakon Bharatayuda tabu untuk dipentaskan dalam upacara perayaan perkawinan.<br />
Apabila pantangan ini dilanggar, orang yakin bahwa keluarga tersebut akan mengalami kesusahan.<br />
Entah akan ada anggota keluarga yang meninggal, akan terjadi perceraian dalam keluarga tersebut, atau malapetaka lainnya.<br />
Di daerah-daerah pedesaan juga masih banyak kita jumpai upacara-upacara adat yang diselenggarakan dengan pertunjukan wayang.<br />
Untuk suatu upacara tertentu, lakon wayang yang dipentaskan juga tertentu.<br />
Pada upacara bersih desa, yaitu selamatan sesudah panen, lakon yang harus dipertunjukkan adalah &#8220;Kondure Dewi Sri&#8221; (Pulangnya Dewi Sri), sedangkan untuk upacara ngruwat lakonnya adalah Batara Kala.<br />
Selain batasan-batasan ini lakon wayang sering kali juga ditentukan oleh permintaan penanggap2 atau atas kesepakatan antara pihak dalang dan penanggap wayang.<br />
Mengenai asal mula timbulnya wayang di Indonesia pendapat dari beberapa ahli dapat digunakan sebagai pedoman untuk memaparkan hal ini.<br />
Salah satu pendapat yang didukung oleh data yang kuat disampaikan oleh Sri Mulyono. Mengenai timbulnya pertunjukan wayang ini Mulyono berpendapat bahwa pertunjukan wayang kulit dalam bentuknya yang asli, yaitu dengan segala sarana pentas / peralatannya yang serba sederhana, yang pada garis besarnya sama dengan yang sekarang kita lihat, yaitu dengan menggunakan wayang dari kulit diukir (ditatah), kelir, blencong, kepyak, kotak dan lain sebagainya, sudah dapat dipastikan berasal dan merupakan hasil karya orang Indonesia asli di Jawa, sedangkan timbulnya jauh sebelum kebudayaan Hindu datang.<br />
Pertunjukan wayang kulit ini pada dasarnya merupakan upacara keagamaan atau upacara yang berhubungan dengan kepercayaan untuk menuju &#8220;Hyang&#8221;, dilakukan di malam hari oleh seorang medium (syaman) atau dikerjakan sendiri oleh kepala keluarga dengan mengambil ceritera-ceritera dari leluhur atau nenek moyangnya.<br />
Upacara ini dimaksudkan untuk memanggil dan berhubungan dengan roh nenek moyang guna memohon pertolongan dan restunya apabila keluarga itu akan memulai atau telah selesai menunaikan suatu tugas.<br />
Upacara semacam ini diperkirakan timbul pada jaman Neohithik Indonesia atau pada ± tahun 1500 SM.<br />
Dalam perkembangannya kemudian upacara ini dikerjakan oleh seorang yang memiliki keahlian, atau menjadikannya suatu pekerjaan tetap, yang disebut dalang.<br />
Dalam kurun waktu yang cukup lama pertunjukan wayang kemudian terus berkembang setahap demi setahap namun tetap mempertahankan fungsi intinya, yaitu sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan sistim kepercayaan dan pendidikan.<br />
Berkenaan dengan perkembangan kesenian wayang ini sebagai ibu kota kerajaan Mataram Baru, Yogyakarta telah memberikan tempat hidup yang subur bagi kesenian wayang, sebagaimana tercermin dan didirikannya sekolah dalang Habiranda pada tahun 1925 di kota ini.<br />
Kini para dalang lulusan sekolah Habiranda banyak tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.<br />
Mengenai jenis wayang yang dikenal oleh masyarakat Jawa, ternyata ada beberapa jenis yaitu: Wayang Kulit/ Purwa; Wayang Klithik; Wayang Golek dan Wayang Orang.</span></p>
<div class="aizattos_related_posts"><span class="aizattos_related_posts_header" >Related Posts</span><ul><li><span class="aizattos_related_posts_title">No related posts</span></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wong-jawa.com/2009/wayang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
