begitu bangun tidur dipagi hari katakan bahwa aku mempunyai waktu yang panjang dan aku sama sekali tidak terlambat.buat apa aku terburu-buru,tidak ada sesuatu yang perlu aku kejar-kejar dan aku tidak sedang dikejar-kejar sesuatu..Nikmati hidup...........................Melambatlah.............................berhentilah khawatir..........................lakukan lebih sedikit hal..............................................melambatlah.................................................nikmati hidup.!

Wong-Jawa menghadapi globalisasi peradaban.

Beberapa ungkapan yang sempat tercuat dari sesepuh jawa, yang menginginkan akar budaya jawa janganlah sampai hilang di telan Globalisasi peradaban.

Mas tulus dari jogja:

“Yang diperlukan adalah forum atau media untuk membahas dan mempraktekkan budaya (Jawa).”

Budaya bisa langgeng dan digunakan kalau memang memiliki nilai pragmatisme, jika tidak maka tentu akan ditinggalkan komunitasnya.
Praktik budaya bisa dilakukan pada saat saat penting atau dalam perilaku sehari hari, maksudnya bisa saja pada saat inisiasi - kelahiran, perkawainan dan atau kematian. Atau bisa dalam kehidupan sehari hari, dalam berpakaian, berbicara maupun berfikir.

Anak muda kehilangan dua hal, pertama media dan kedua contoh, maka tidak heran kalau generasi muda menjadi asing dengan budayanya sendiri. Siapa yang bertangungjawab? tentu generasi pendahulunya, jangan salahkan generasi mudanya.

Contoh apakah ketika saat inisiasi kehidupan manusia para orang tua melakukan pranata budaya secara langkap atau tidak sama sekali. Orang tidak malaksanakan praktik budaya dengan berbagai alasan. Mungkin dengan alasan ekonomi tidak melaksanakan, yang lebih repot dan ini akan menghacurkan pranata budaya, kalau tidak melakukannya karena menggunakan nilai lain yang sama sekali tidak mendukung pranata budaya tersebut.

Praktik budaya yang paling sederhana adalah dalam penggunaan bahasa sehari hari. Untuk yang satu inipun banyak yang tidak melaksanakannya, sehingga bagaimana generasi muda bisa mengerti unggah ungguh Jawa kalau bahasa Jawa saja tidak mengerti, lantas siapa yang patut disalahkan? tentu para orang tua yang tidak mengajarkan bahasa kepada anak anaknya.

Unggah ungguh Jawa dilandasi oleh cara berfikir Jawa, yaitu mendahulukan harmonisasi hubungan antar manusia, didalamnya terdapat rasa hormat dan toleransi yang mendalam pada orang lain, pada cara pandang lain pada fihak lain.

Sehingga budaya Jawa sebenarnya tidak mengenal mutlak-mutlakan, semuanya relatif, semua diberi kesempatan. Namun sifat yang semacam ini seringkali disalah tafsirkan sebagai sikap tidak tegas, sikap plin-plan, sikap mendua…sikap yang tidak rasional.

Nah disinilah bedanya -atau istimewanya -atau sulitnya, orang Jawa harus mendahulukan “rasa pangrasa”, artinya tidak hanya rasionalitas melainkan totalitas sikap kemanusiaan.

Jaman sekarang, orang dipacu untuk memburu kepentingannya sendiri, ingin menang sendiri,ingin benar sendiri, dalam iklim persaingan atau kompetisi rasional semacam ini kultur Jawa tidak akan berkembang.

Maka benar apa yang disampaikan Kangmas Sadaryanto, BUDAYA SENDIRI YA HARUS DIJAGA SENDIRI. Maka, mari kita jaga sendiri budaya kita, kita jaga pribadi sendiri, cara berfikir kita, cara bertutur kita, cara memilih kata

About the Author

admin

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>