02=menikmati hidup.
Terjaga di tengah malam, dhe Sur menggapai anak ragilnya yang terlelap mengempot jempol tangannya sendiri di sampingnya. Bagus bergelung dalam dekapan bapaknya, menyambut rengkuhan hangat penuh kasih itu. Sementara sang istri, budhe Marni tengah asyik dengan mimpinya sendiri, esemannya menunjukkan mimpi indah sedang hinggap di alam relaksasinya.
Sementara itu di luar rumah gedhong penuh kehangatan itu, dilihat dari teras , bulan terlihat bertengger di sela-sela ranting pohon mangga Gadhung di depan rumah. Angin kumlitir lambat lantur mencipta kesejukan malam, menggoyangkan dedaunan mangga Gadhung yang sedang bersaing hijau dengan dedaunan benalu. Suara kelepak sayap kelelawar buah atau codot yang berrebut mangga mengusik keheningan malam.
Desa Padhas memasuki pagi saat embun turun, rumput menggeliat, kelelawar menghilang bersama rembulan dan baskara atau matahari lambat-lambat mengintip dari garis batas bumi dan langit bertemu. Beberapa penduduk yang berjualan di pasar telah bangun dan berangkat ke pasar sejak tadi, sementara yang menjadi petani, satu dua orang telah berangkat ke sawah, yang jadi kuli juga bersiap pergi, begitu juga yang jadi pegawai, punya kewajiban hidup yang sama.
Kacarita, ini tentang kisah sebuah keluarga dengan lingkungan yang selalu bersinggungan dengan keseharian salah satu atau seluruh anggota keluarga. Adalah pakdhe Suryo atau yang biasa dipanggil dhe Sur oleh para tetangga, seorang kepala keluarga yang sabar bijaksana. Budhe Marni sebagai ibu dari anak-anak dhe Sur yang masih kecil-kecil. Tiyas, anak pertama dhe Sur memang sudah kelas 1 SMP dan kadang bisa dibilang sudah tidak kecil lagi, tapi jika melihat usia dhe sur yang sudah kepala lima, maka wajar jika dibilang anak-anaknya masih kecil. Pasalnya dhe Sur pernah telat menikah saat muda, beliau menikah kala usia hampir mencapai 38 tahun. Namun begitu, budhe Marni masihlah muda, 37 tahun kini usianya.
Anak kedua, bernama Bagus, seorang jagoan bagi dhe Sur, lama sudah dhe Sur ngggandrung seorang anak lelaki sebelum Bagus lahir 6 tahun yang lalu. Kini Bagus sudah kelas 1 SD di dekat rumah, namun rasa sayang dhe Sur yang sangat padanya membuat Bagus hingga kini masih tidur bersama kedua orang tuanya.
Dhe Sur memang dituakan dan disungkani oleh warga di sekitar rumahnya. Biasalah orang kampung, memilah derajat orang berdasar jabatan atau pangkat seseorang, apalagi jika orang itu penuh dinaungi kewibawaan seperti dhe Sur.
Dhe Sur adalah seorang pegawai negeri sipil atau PNS istilahnya, seorang pegawai dinas pekerjaan umum di kabupaten Wlidah. Kota kabupaten Wlidah berjarak kurang lebih 18 kilo meter dari padhukuhan Padhas, kampung tinggal dhe Sur dan keluarganya. Jika ditempuh dengan motor kecepatan standart, akan memakan waktu 30 hingga 45 menit. Namun berbeda untuk dhe Sur yang memakai falsafah jawa dari salah satu aksara jawa, Bo, Bayu sejati kang andalani atau menyelaraskan diri pada gerak alam.
Cukuplah bagi dhe Sur menempuh jarak menuju kantornya itu dengan kecepatan 40KM/jam saja sehingga dengan macet-macetnya butuh waktu kurang lebih satu jam menuju kantor dari rumahnya.
Bagi dhe Sur, hidup haruslah dinikmati senikmat mungkin, maka karenanya lah dhe Sur memilih perjalanan pagi menuju kantor perlu ia isi dengan nglaras urip atau menikmati hidup. Menikmati silir angin pagi yang menerpa beberapa helai uban yang sedikit menghiasi rambutnya yang mulai menipis, memang hanya beberapa helai, namun cukup menampakkan jika usianya sudah kepala lima. Menikmati pemandangan sorang pengembala yang selalu mengejar-ngejar wedhus pruculnya hampir setiap pagi sesaat sebelum dhe Sur meninggalkan tlatah Driyorejo Menikmati sapa beberapa teman sekantor maupun tidak sekantor saat menyalip laju motornya. Menikmati warna belang hitam putih setiap zebra croos yang ia lewati. Menikmati gelisah wajah para pelajar yang menanti angkutan di tepian jalan yang ia lewati. Dan masih banyak pemandangan hidup penuh makna disetiap milimeter jarak yang ia tempuh setiap pagi sambil menghirup setiap partikel udara dalam pagi.
Sebenarnya masih banyak falsafah hidup kejawen dhe Sur yang lain yang mengakar disetiap kehidupan dhe Sur. Diantaranya adalah falsafah dari aksara-aksara jawa, misalnya:
Do to so wo lo, yang dimaknakan dalam kepungan atau lingkungan jawa sebagai:
Do, Dumadining dzat kang tanpa winangenan
To, Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa
So, Sifat ingsun handulu sifatullah
Wo, Wujud hana tan kena kinira
Lo, Lir handaya paseban jati
Yang diartikan bahwa: Kita harus menerima hidup apa adanya,
Mendasar, totalitas, satu visi, teliti dan berwibawa,
Bersifat kasih sayang seperti kasih Tuhan
Ilmu manusia terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas, serta,
Mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi.
~*~
Jago kluruk rame kapiyarsi,
Lawa kalong luru pandhelikan,
Jrih kawanen ing semune,
Wetan bang sulakipun,
Mertandhani yen bangun enjing.
Rembulane wis gumlewang,
Neng kulone gunung,
Ing padesan wiwit obah,
Lanang wadhon pan samya anyambut kardi,
Netepi kuwajiban.
Terjemah:
Jago berkokok ramai sekali,
Kelelawar buah mencari tempat bersembunyi,
Takut kesiangan dalam rautnya,
Timur raya sudah merah sorotnya,
Pertanda jika sudah pagi.
Bulan sudah langsir,
Di sisi barat gunung,
Di desa mulai bergerak,
Lelaki dan perempuan pergi bekerja.
Memenuhi kewajiban.
Lantang namun merdu suara dhe Sur mengalunkan tembang Dhandhang Gula di pagi yang masih berkabut, Srengenge kudup di timur dengan langit penuh semburat merahnya. Dengan semangat dhe Sur melakoni kegiatan pagi harinya, memandikan perkutut kesayangannya, Untung namanya. Sebuah nama yang diberikanbukan tanpa alasan. Dulu dhe Sur punya perkutut yang dinamai Bejo, namun rupanya si Bejo tidaklah bejo atau beruntung seperti namanya. Bejo sakit lalu mati muda dalam usia kurang dari satu tahun.
“Keeeer….Keeeer…ck..ck..ck..” dhe Sur ngudang si Untung sambil menjentikkan jarinya di depan muka Untung. Sangkar Untung dikeluarkan dari dalam rumah, hendak digantungkan diteras.
Sementara itu, di dalam rumah terdengar suara budhe Marni yang sedang membahas menu makan siang untuk hari itu dengan mak Yah, pembantu di rumah itu. Suara Tiyas yang sedang berrebut kamar mandi dengan Bagus menyelingi obrolan budhe Mar dan mak Yah sesekali.
“Ayo tung, manggungo!” dhe Sur menyuruh Untung berkicau.
“Kung kung.…kuku….…kukuung…” riang Untung menyambut pinta pemiaranya.
Suka cita dhe Sur mendengar kicau Untung Ia segera memandikan Untungdengan semprotan berleher yang sudah di isi dengan air bersih sambil nembang Dhandhang Gula lagi.
“Pakne-Pakne, mbok ya o jangan nembang sambil ngudang perkutut wae, iki lho, anakke diurusi!” rupanya budhe Mar sedang kehilangan keseimbangan emosi pagi ini. Padahal biasanya budhe Mar tak pernah sekalipun mengkomplain kebiasaan dhe Sur yang sudah dilakoni selama bertahun-tahun itu.
Budhe Mar sangat sadar selama ini, jika kecintaan suaminya pada perkutut tak bisa lagi dipenggak (dilarang). Perkutut bagaikan separuh jiwa dhe Sur, perkutut adalah sahabat dhe Sur, dan perkutut adalah sebuah lambang kesejahteraan. Sebab jaman dulu, perkutut adalah piaraan para sultan dan demang yang hidupnya sudah pasti penuh kesejahteraan. Seperti halnya keris, keris adalah lambang keberanian dan percaya diri. Berani dan percaya bahwa Tuhan akan menolong siapa pun yang menegakkan kebenaran.
“Diurusi gimana lagi tho Bune?, wong sudah pada gedhe.” Sahut dhe Sur pada istrinya tanpa menoleh.
“Ya dinasehati atau apa gitu biar tidak pada satru!”.
“Iya-iya, Buk”
“Jangan iya-iya saja, mbok ya o ditandhangi!” gerutu budhe Mar sambil masuk lagi ke dalam rumah. Insaf jika suaminya tak akan memarahi anak-anak seperti yang ia harap.
Rumah itu bagus dan rindang oleh sepohon mangga Gadhung yang menjulang di depan rumah. Dhe Sur membeli tanah itu dari pak kamituwa sepuluh tahun yang lalu, saat Tiyas masih berumur 3 tahun, lalu tahun berikutnya dhe Sur sudah mampu membangun sebuah rumah tinggal yang sangat layak bahkan dapat dibilang sangat bagus untuk ukuran rumah di perkampungan seperti Padhas.
Dulunya dhe Sur masih tinggal di rumah mertuanya diujung desa. Namun semangat untuk makmur membuat dhe Sur mampu meraih apa yang ia inginkan. Falsafah hidup yang ia anut telah menentramkan hidup dan hatinya.
~*~
Wedhus prucul tanpa tali itu kembali berlarian dengan tengilnya dikejar-kejar oleh pengembalanya saat dhe Sur menderu di atas motornya pagi itu. Dalam hati dhe Sur heran juga, mengapa tidak segera diberi tali saja biar mudah menggembalakannya seperti wedhusnya yang lain. Mungkin saja si pengembala masih kasihan padanya karena usianya masih sangat muda.
Sebentar kemudian dhe Sur sudah meninggalkan batas desa, membelok di perempatan dan memasuki jalan raya yang dipenuhi hiruk pikuk angkutan yang ngetem (berhenti berlama-lama menunggu penumpang) sembarangan mencari penumpang. Mereka berlambat-lambat untuk mengumpulkan pemumpang namun bukan berarti sependapat dengan falsafah hidup dhe Sur. Sebab ngelaras bukan berarti tidak disiplin, mbolor, dan tanaturan seperti angkot-angkot itu.
Ngelaras berarti melaksanakan rutinitas lantur-lantur, tidak terburu-buru, teratur, terkoordinasi, disiplin dan tepat waktu, terrencana dan tidak ngege mongso. Nggege mongso adalah terburu-buru menginginkan sesuatu sebelum waktunya.
Langit masih satu warna pagi ini, biru cerah tanpa awan, namun wajah para sopir angkot tak secerah itu rupanya. Saat dhe Sur hendak melewati pasar mendadak salah satu angkot menyerobot mendahului laju motor dhe Sur yang hanya berkecepatan 40 KM/jam, membelok seenak bempernya merapat ke kiri untuk menurunkan penumpang dengan serampangan. Telak, angkot itu hampir saja menyerundul ban depan motor dhe Sur.
Sabar, dhe Sur tak hendak mengumpat atau marah-marah, ia justru memilih berhenti sejenak hingga angkot itu selesai dengan hajatnya dan kembali menancap gas nggendring sipat kuping. Ia hanya mesem. Ia tahu, jika ia menyalip angkot itu saat berhenti, maka tak lama lagi ia akan mengalami hal yang sama lagi, diserobot, didahului dan dibuat kesal lagi. Dhe Sur tahu bahwa jika ia menuruti emosi, maka sikap menang sendiri sopir angkot hanya akan memitran dengan emosinya untuk membuat suatu perseteruan. Dan hanya kepala dingin yang bisa mengatasi.
Inilah yang dimaksud Sifat ingsun handulu sifatullah - Bersifat kasih sayang seperti kasih Tuhan. Seperti cerita lawas, kancil balapan karo keyong. Dalam cerita itu tersirat sebuah pesan moral, bukan kecerdikan keyong/siput, tapi ini tentang keberanian dan kepercayaan diri siput. Berani dan percaya bahwa Tuhan akan menolong siapa pun yang menegakkan kebenaran. Melumpuhkan kesombongan kancil yang biasanya terkenal sebagai binatang tercerdik di hutan. Sebuah pesan, bahwa di atas langit ada langit.
Saat siput menerima tantangan kancil untuk berlomba lari, bukan berarti siput hanya menuruti emosi, ataupun terlalu percaya diri bahwa Tuhan akan membantu dengan ajaib, bukan. Siput menerima tantangan itu karena ia telah memikirkan rencana, ia punya koordinasi dengan teman-temannya yang nampak serupa, dan ia punya usaha untuk mencapai tujuan.
Dhe Sur menggunakan filosofi siput yang memikirkan rencana untuk melawan atau mengalah saja pada angkot hari ini. Ia sabar dan penuh rencana, bahwa jika ia melawan angkot itu, maka hanya saling satru lah yang di dapat. Apa yang nikmat dari saling satru, saling emosi. Bukankah ngalah tidak berarti kalah?, jadi apa salahnya jika kita ngalah. berbuat dan bertindak atas dasar sabar, ikhlas dan ridhlo, serta welas dan Asih terhadap sesama makhluk.
Itulah sebab mengapa dhe Sur menggunakan filosofi siput, sebagai salah satu falsafah hidupnya. Siput yang dalam 1001 tafsir mimpi mengusung angka 02 dalam perlambangannya. Bahwa nomor satu bukanlah segalanya. Bahwa lambat bukan berarti tidak hebat.
~*~
Kapustakan
(Garan pangracikipun 02: Nglaras Urip/Menikmati Hidup).
Sumantri, Bambang. 2002. Jalan Kesuksesan Hidup. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Kariyan. 2008. Makna Huruf Jawa. (Http://www.kariyan.wordpress.com, diakses 09 mei 2009).
Siswadi. 1988. Kridha Basa 1. Klaten: PT Intan Pariwara.
1001 tafsir mimpi :Togel memang oyee.
Leave a Reply